Kini dan Memori

“Ngerti kan?” suara berat itu bertanya dengan lembut, seperti biasanya.

“Nggak. Aku nggak ngerti.” aku menggelengkan kepalaku sembari tersenyum jahil. Ia juga tersenyum. Manis. Senyum yang selalu ingin kulihat. Senyum yang selalu menghiasi hari-hariku. “Coba ulang lagi.” pintaku. Ia tersenyum sederhana kemudian mengacak rambutku pelan. Ia mulai menekan beberapa senar gitarnya lagi.

“Yang kaya ini, kunci G.” katanya sembari menyerahkan gitarnya kepadaku. “Ayo coba.”

“Gini?” tanyaku setelah meletakkan jemariku di atas senar-senar gitar.

“Kurang ke sini dikit.” Jari-jarinya menggeser jemariku dengan lembut. Aku tersenyum. Sentuhan ringan sudah cukup membuatku merasa nyaman. Aku mendongakkan kepala sedikit, berusaha mencuri pandang ke arahnya. Dia juga tengah melihat ke arahku hingga kami akhirnya bertemu pandang. Ia tersenyum. Dia tidak sempurna. Bukan laki-laki yang terlalu tampan. Tetapi dia pintar dan manis. Sepertinya memang hanya dia yang mampu membuatku merasa nyaman.

Dengan lembut aku memetik senar gitar.

“Tekan lebih keras lagi.” ia memberitahu. Sebenarnya, suaranya lebih merdu daripada alunan dawai gitar. Aku menyukai suaranya. Tidak. Aku tergila-gila dengan suaranya. Suaranya seperti candu dalam hidupku dan aku benar-benar tidak mau kehilangan suara itu. Suara yang begitu menenangkan. Setiap aku merasa sakit hati, suaranya adalah pain-killernya.

“Sudah bisa kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

***

Kisah cinta murahan. Cinta monyet. Namun aku menikmatinya. Bahkan sampai saat ini, aku masih mengingatnya. Dia, gitar itu, dan cerita kami. Seharusnya cinta yang lalu hanya dapat menjadi sebuah potret memori saja. Namun, dia adalah cinta pertamaku. Ia tidak dapat kuanggap sebagai potret memori. Hingga akhirnya takdir kembali mempertemukan kami.

“Aku masih sayang kamu.” begitu katanya, setelah sekian lama terpisah. Senyumnya masih sama seperti dahulu. Suaranya masih semerdu yang dulu. Suara yang masih menjadi candu.

“Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu… Sejak awal, aku tahu itu kamu…” katanya lagi. Aku tersenyum.

“Aku mau belajar main gitar lagi.” kataku.

Dia tertawa ringan.

“Yang dulu nggak pernah ngajarin main gitar?” candanya.

“Nggak. Cuma kamu yang pernah…” jawabku ringan.

“Iya… Nanti kalo kamu udah nggak sibuk belajar main gitar lagi…” katanya sembari mengacak rambutku, seperti dahulu. Aku tersenyum. Nyaman. Aku harap kenyamanan ini tidak lekas berakhir.

Aku juga masih sayang kamu…

Advertisements

2 thoughts on “Kini dan Memori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s