Park Jae Bin (I)

Image

Namanya Kim So Ra. Aku sangat mencintainya. Gadis berambut hitam lurus dengan wajah putihnya yang manis. Aku benar-benar mencintainya lebih dari apapun. Dia adalah yang pertama, dan mungkin dialah yang terakhir. Aku tidak ingin kehilangan sosoknya. Gadis yang selalu tersenyum dengan tulus dan manis. Gadis yang selalu mendukungku. Gadis yang dapat bersikap tegas sekaligus lembut. Mungkin aku adalah pria paling beruntung yang pernah ada.

“Oppa…”

“Jae Bin oppa…” Aku tersadar dari lamunanku dan melihat ke arah gadis cantik di hadapanku. Wajahnya terlihat begitu manis dengan senyumnya yang manja. Aku tersenyum ke arahnya.

“Oppa tadi melamun?” tanya gadis itu sembari menggosok-gosokkan kedua tangannya. Udara hari ini memang tidak bersahabat. Cuacanya cukup buruk, udara terasa begitu dingin. Aku meraih tangan gadis itu kemudian mendekatkannya ke arah bibirku dan mulai meniupkan uap hangat.

“Tidak. Tadi aku tidak melamun. Masih dingin?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya pelan.

“Ani oppa. Sudah hangat.” kata So Ra sembari tersenyum, kemudian meletakkan tangannya di kedua pipinya. Tak lama kemudian pipinya terlihat merona. “Gomawo oppa…” Senyumnya belum luntur. Senyum So Ra selalu menular, seperti virus flu. Aku juga tersenyum. Kusentuh pipinya dengan lembut.

“Cantik…” kataku pelan. Ia merapatkan tubuhnya ke arahku, kemudian mendongakan kepalanya.

“Oppa, sungai Han terlihat sangat cantik saat musim dingin. Bagaimana menurut Oppa?”

“Menurutku, kau lebih cantik.”

Dia tertawa kecil. Terdengar ringan dan renyah. Aku benar-benar menyukai itu. Kupeluk tubuh mungil itu dengan erat. “Saranghae, So Ra.” ucapku. So Ra menenggelamkan kepalanya dalam pelukanku. Aku tidak dapat melihat wajahnya, namun aku dapat merasakan dia tersenyum.

Salju turun perlahan. So Ra mendongakan kepalanya perlahan.

“Oppa, saljunya mulai turun.” ia tersenyum bahagia, seperti anak kecil. Aku mencium keningnya, sementara itu dia memejamkan matanya dan tersenyum.

“Oppa, kita sudah 3 tahun bersama. Apa Oppa tidak bosan denganku?” tanya So Ra.

“Tidak. Tidak akan pernah bosan.” Jawabku.

“Jinja?” Ia menatapku dengan tatapan mana-mungkin-kau-bisa-bertahan-dengan-bocah-sepertiku. Aku menganggukan kepala.

“Yah, terserah kau saja kalau tidak percaya.” ujarku, sok dingin. Dia tertawa pelan kemudian melepaskan diri dari pelukanku.

“Oppa tidak bisa marah kan? Tidak usah pura-pura marah.” katanya dengan nada menggoda. Aku tertawa, kemudian menggandeng tangannya. Aku benar-benar tidak bisa marah padanya. Kim So Ra-ku. Hanya dia yang bisa membuatku membuka hati. Cinta pertama. Kuharap cinta terakhir.

Kami menyusuri sungai Han sembari bergandengan tangan. Musim dingin ini begitu indah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s