Kau, Ia dan Gadis Itu

Kau…

Kau yang secara diam-diam mengasihi gadis itu. Mereka semua tahu kau menyukai gadis itu, diam-diam memperhatikan dan melindunginya. Namun kau tetap terdiam. Kau memilih untuk mengunci mulutmu rapat-rapat daripada mengatakan apa yang kau rasakan. Kau menyiksa batinmu untuk menjaga perasaan itu. Kau mencintainya, namun tak berani bersuara.

Ia…

Ia juga mengasihi gadis itu. Namun ia lebih cepat tanggap dengan perasaannya, sehingga dengan cepat ia mendekati gadis itu. Ia tak lagi peduli. Ia selalu mendapat apa yang diinginkannya. Ia menginginkan gadis itu, maka ia mendekati gadis itu. Tidak butuh waktu yang lama untuk ia mendapatkan gadis itu. Namun mereka tidak tahu, apakah ia benar-benar mencintai gadis itu, sebanyak kau mencintainya.

Kau dan ia harusnya bersahabat.

Tidak.

Sejak ia mendekati gadis itu, kau memilih untuk menjaga jarak. Menjaga hatimu dari luka. Kau membiarkan ia mendapatkan gadis itu. Kau hanya diam memandang. Menyedihkan, kata mereka. Ia tidak lagi peduli dengan apapun. Ia meninggalkan kau, bersama gadis itu. Ia sudah memiliki apa yang ia inginkan, sementara kau hanya termangu. Pasif. Kau menyayangkan keadaan, namun kau tak berusaha. Mereka berdecak kearahmu, namun kau hanya diam. Kau tak bergeming.

Mungkin ia telah menggenggam tangan gadis itu, mungkin ia telah mencumbu, mungkin ia telah tidur bersama gadis itu. Namun kau pura-pura buta. Kau pura-pura tuli. Kau pura-pura bodoh.

Mereka menganggap kau benar-benar bodoh.

Sampai kau akhirnya melihat gadis itu tercampakan. Kau tahu gadis itu sudah ‘bekas’. Kau tahu itu. Namun perasaan cintamu masih tetap sama. Ia telah pergi menghilang. Menghilang dari tanggung jawabnya sebagai seorang bapak. Bapak anak yang dikandung gadis itu. Ia pergi meninggalkan luka pada gadis itu. Kau tahu gadis itu tak lagi suci, namun cintamu masih ada. Mengapa kau begitu mencintainya?

Kau memeluk gadis itu. Kau katakan perasaan cintamu dengan lantang. Namun gadis itu menggelengkan kepalanya, berkata bahwa kau terlalu baik untuk dirinya. Kau bilang kau tidak lagi peduli.

Kau mencintainya.

Namun apa gadis itu juga mencintaimu?

Kau memeluknya.

Kau mencintainya.

Apa lagi yang menjadi lebih penting?

Advertisements

5 thoughts on “Kau, Ia dan Gadis Itu

  1. Egi says:

    I have got recommendation from another site that this writing included the view of second person.
    But, this is still third person’ view.

    Regardless what the view is, this writing is seductive and readable. Thanks for beautifying the short-old-story! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s