Kisah Sebatang Pohon

Berapa banyak waktu yang dibutuhkan sebatang pohon untuk tumbuh? Berapa banyak pohon yang ditebang setiap detiknya? Berapa banyak pohon yang ditanam setiap detiknya di dunia? Ini adalah sebuah kisah tentang sebatang pohon yang hidup di tengah sebuah hutan hujan tropis di Pulau Kalimantan, Indonesia.

Ia tidak bernama. Sebuah spesies yang telah lama berada dalam daftar biodiversitas yang sudah cukup lama punah. Ia tumbuh sekitar lima belas tahun setelah spesiesnya dinyatakan punah oleh para ilmuan, namun tidak ada yang menyadari keberadaannya. Tidak ada yang cukup jeli untuk menyadari keberadaan spesies tunggal yang tersisa di bumi, yang tumbuh dari salah satu biji yang tersangkut di dahan pohon-pohon lain yang akhirnya terjatuh ke tanah.

Ia nyaris tidak terjamah tangan manusia. Beberapa orang mungkin melewatinya saat melewati hutan lebat itu hanya untuk sekadar berburu atau mungkin tersesat. Kelompok manusia dari suku tertentu dengan kearifan lokalnya yang melarang warganya untuk menyakiti pepohonan. Ia hanya berdiri, sementara jemari akarnya merambah jauh ke dalam tanah, seolah mencengkeram bumi sembari mencari sumber air dan mineral. Angin sering kali berhembus lembut, membuat dedaunannya bergemerisik saat bergesekan satu sama lain. Tak jarang mahkotanya bersinggungan dengan mahkota pepohonan di sekitarnya, menimbulkan irama yang nyaman, hangat dan tenang.

Semuanya begitu indah…

Hingga para manusia itu berdatangan. Semula hanya satu sampai dua orang saja. Dengan kamera dan beberapa peralatan lain, mereka mulai menjelajah hutan. Membawa pasak dari besi kemudian memetak-metakan bagian dari hutan tersebut. Tak lama berselang, kemudian sekelompok manusia lain berdatangan. Mereka berhati dingin. Dan dengan bersenjatakan peralatan logam yang sama dinginnya, mereka merambah hutan.

Ia, yang tanpa nama, kini terancam eksistensinya. Para manusia itu kini berdatangan dengan lebih banyak alat dingin, namun juga panas. Kumpulan logam-logam raksasa yang jahat. Benda itu berdenting, berdesing, berderak. Uap panas mengepul dari raksasa itu. Mengerikan. Suara logam sesekali berdenting saat segerombolan manusia dan raksasa logam itu datang.

Suara gemerisik daun kini tidak lagi terdengar bagaikan alunan melodi yang indah dan tenang. Kali ini, suara gemerisik daun saat diterpa angin lebih terdengar seperti tangisan dan bisik cemas. Nasib pohon tak bernama itu dan mereka, pepohonan yang lainnya, ditentukan dari tiap langkah yang manusia itu ambil.

Ia, yang tak bernama, tersakiti. Kulitnya beradu dengan dinginnya logam yang berotasi dengan kecepatan tinggi. Ia merasakan pedihnya kulit pohon dan kayu yang bergesekan dan teriris gergaji mesin berukuran gigantis. Ia dapat merasakan cairan sari pati dari kayunya meleleh dari lukanya, diikuti suara berdebum keras. Dan itulah terakhir kalinya ia berdiri di atas bumi. Ia, yang terakhir dari kaumnya, tumbang.

Ia yang terakhir.

Dan manusia mengakhiri garis keturunan spesiesnya.

He was the last of his kind. He’s gone.

Because of human.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s