Blue

Emmeline Bluebell James. Ia dikenal sebagai Blue, si gadis biru. Yang ceria, namun menyembunyikan banyak kesedihan. Hingga laki-laki itu datang, memberikannya senyuman, menyajikan kehangatan, menawarkan secercah kebahagiaan. Laki-laki yang menawarkan persahabatan, mengulurkan tangan, tersenyum kepadamu.

Namun apakah yang terjadi saat laki-laki itu kau tinggalkan?

Dua tahun berturut-turut, Blue. Dua tahun.

Hingga kau menemuinya di depan perpustakaan. Lantai empat kan? Bukankah ia hanya menganggapmu ilusi? Bukankah ia menyuruhmu untuk pergi?

“Kau tidak nyata!” desis bocah gagak itu. Ada kemarahan dalam nada suaranya. Namun kau juga mendengar kesedihan, rindu dan kekecewaan. Iya kan, Blue? Kau memandangnya, meneteskan air mata –lagi-lagi menjadi gadis biru–, yang tidak dapat menahan emosimu sendiri. Kalau saja kau tidak meninggalkannya sendirian, Blue. Kalau saja kau memberikan ia kabar. Sepucuk surat tidak akan membunuhmu kan?

Lalu kau memeluknya, meminta maaf. Berharap ia memaafkanmu, berharap ia tidak akan meninggalkanmu, seperti kau meninggalkannya.

Oh, dear Blue. How naive you are.

Namun bocah gagak itu, James. Ia memberikan maafnya, memelukmu, memberikan sentuhan hangat di bibirmu. Bibir kalian bertemu, bercumbu.

Kau memang tidak meninggalkannya.

Tapi bagaimana dengannya? James. Apakah ia tidak meninggalkanmu? Apakah dia tetap ada bersamamu?

Tragedi kereta itu membunuhmu. Membunuh batinmu. James, dia berada di kompartemen satu. Iya, kan? Laki-laki yang kau cintai itu kehilangan separuh wajahnya, namun yang lebih penting. Ia kehilangan jiwanya. Ia kehilangan moralitasnya. Ia kehilangan apa yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.

Whoops! Raven’s boy turns into Slytherin. Just in a night.

Kau merasakannya bukan? Saat ia memberimu sebuket anggrek di Hospital Wing. Percakapan kalian menjadi hampa. Kau tahu kan Blue, pada saat itu, ia bukan lagi James yang selama ini kau cintai? Kau tahu kan Blue, kalau semua akan menjadi berbeda? Kau keluar dari Hospital Wing, terduduk di samping pintu, menangis.

Lagi-lagi menjadi gadis biru. HA!

Kau merasakan air matamu meleleh, membentuk anak sungai di pipimu. Air mata yang kemudian sedikit menyeruak ke dalam bibirmu, terasa hangat, asin dan pahit. Kau terisak perlahan, berusaha agak entitas di sekitarmu tidak menyadari kepedihan hatimu. Kau tahu, James yang kau kenal telah pergi. Ia sudah tiada, mati bersama dengan beberapa murid lain dalam kecelakaan itu.

Blue.

Bukankah itu namamu?

Gadis yang hidup dalam haru biru.

Blue.

Bukankah garis takdirmu tertulis dalam namamu?

***

Cerita pendek ini saya dedikasikan untuk karakter saya di BTM Zeta yang sudah tidak aktif, Emmeline Bluebell James.

Disclaimer: James A. Burton, karakter milik Desinta, my writing pal. Hope we can write together again.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s