Seharusnya

“Harusnya kita bisa bahagia kan?” suaraku tercekat. “Iya kan?” desakku. Ia hanya tersenyum lemah dan terdiam. Aku tahu, dia juga tahu. Kami tidak seharusnya bersama. Hidupku, hidupnya. Harusnya memang seperti itu. Seharusnya kami tidak memaksakan diri untuk bersama. Seharusnya kami sudah menjaga jarak dari awal, menjaga agar hati kami tidak tertaut. Karena hatiku, hatinya, tertaut begitu erat hingga begitu sulit untuk dilepaskan.

Continue reading