Kini dan Memori

“Ngerti kan?” suara berat itu bertanya dengan lembut, seperti biasanya.

“Nggak. Aku nggak ngerti.” aku menggelengkan kepalaku sembari tersenyum jahil. Ia juga tersenyum. Manis. Senyum yang selalu ingin kulihat. Senyum yang selalu menghiasi hari-hariku. “Coba ulang lagi.” pintaku. Ia tersenyum sederhana kemudian mengacak rambutku pelan. Ia mulai menekan beberapa senar gitarnya lagi.

Continue reading